Malam tampak hening dan sepi. Ada beban yang berat menghalangi gerak langkahku menuju pintu rumah Tuhan. Kegelisahan hati antara mendekati dan menjauhi rumah-Nya bergolak dalam benakku. Kupaksakan diri untuk menekan perasaan menjauh itu. Saat mendekati rumah-Nya untuk membuka pintu, tangan terasa lemas tanpa tenaga.Aku buka pintu. Yang tampak hanya temaram bola lampu yang memecah gelap dan menemani keheningan masjid. Kutempatkan diriku tepat di sudut masjid yang terbias lampu teras, bersujud dan menyapa Tuhan dengan tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil.
Hempasan tubuh malam itu sangat berarti dan mungkin baru kali ini aku merasakan kenikmatan dalam bersujud. Ungkapan syukur malam itu membisukan egoku. Dan yang membuatku haru saat itu adalah Tuhan masih mempercayaiku, memberikan kepadaku kesempatan untuk bertemu lagi dengan Ramadhan. Aku mempertanyakan maksud Tuhan ini; benarkah ia masih mempercayaiku? Aku ragu. Tidak salahkah Engkau, Tuhan, memberi amanah kepada hamba yang selalu mengabaikannya, sementara hamba-hamba-Mu yang mulia, yang menjalankan amanah-Mu, tidak Engkau percayai lagi? Inilah bebanku yang sangat berat dan mungkin inilah sindiran-Mu padaku.
Ingin kukabarkan padamu, ya Ramadhan. Bahwa aku malu menjemputmu. Malu dengan kemuliaanmu. Begitu juga malu dengan kasih sayangmu.Ingin kuceritakan padamu, ya Ramadhan. Dosaku saat engkau hadir di sisiku. Inilah kehinaan keluhanku untukmu.
Seperti tahun-tahun yang lalu, aku menantikan bulan ini dan memohon agar Tuhan mempertemukan aku denganmu lagi. Aku menyimpan harapan besar kepadamu karena kemuliaan dirimu. Aku persiapkan tubuhku untuk menyambutmu.
Tetapi, duhai diriku, apa yang kau perbuat setelah pertemuan ini tiba? Ramadhan tahun ini masih saja seperti Ramadhan yang lalu, aku membiarkanmu berlalu tanpa berbuat sesuatu yang lebih baik dan berarti. Aku mencampakkanmu. Aku lebih banyak diam untuk menghilangkan rasa lemahku setelah bekerja. Aku lebih banyak tidur tanpa banyak menjemput malam-malammu. Aku lebih banyak meninggalkan bacaan Al-Quran yang semestinya aku hias untukmu. Dan aku lebih banyak memenuhi kepuasan diri daripada memberi kepadamu. Aku katakan padamu bahwa aku merindukanmu.
Tetapi, duhai diriku, mengapa kerinduan ini hanya ungkapan belaka tanpa kau jemput dengan perbuatan mulia? Bukankah ia bulan kekasih Tuhan yang semestinya kau sambut dengan cinta dan gempita? Tidak pernahkah engkau belajar meniru bagaimana cara menyambut cinta kepada seorang kekasih yang merindukan perjumpaan?Mengapa pertemuan ini hanya dambaan semata tanpa kau dekap ia dengan kesungguhan dan kesabaran yang panjang? Adakah perasaan gembira dan bersahabat yang engkau simpan dalam benakmu kepadanya?
Duhai diriku, mengapa engkau terampil merindu, piawai mendamba, dan pandai merangkai kata-kata saat berjumpa dengannya, tetapi kau tak mampu melakukan tindakan penting yang lebih mulia dari sekadar kata?Bisu. Itulah dialog sepi yang aku persembahkan untuk Tuhan. Tanpa zikir dan istighfar. Hanya kata kotor, dusta, gunjingan, dan umpatan yang aku tebarkan. Renggang. Itulah hubungan yang kutanamkan pada malam dan hari-harimu. Tanpa keintiman menyapa Tuhan. Hanya laku malas, manja, dan merasa puas yang aku dendangkan.
Duhai diriku, tidakkah engkau sedikit saja mencoba memahami makna kesucian dirinya? Di dalamnya ada jutaan berkah yang jika engkau sambut engkau akan mendapatkannya. Di dalamnya berkumpul dan terbuka segenap pertolongan Tuhan; rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka.Di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan.Di dalamnya pahala amal saleh seseorang dilipatgandakan.Di dalamnya malaikat menyapa orang yang beribadah.Karenanya pintu-pintu setan tertutup, pintu-pintu neraka dirapatkan, dan ijabah doa disegerakan.
Duhai diriku, sebatas manakah engkau memahami makna kesuciannya?Duhai diriku, sudahkah engkau mengadili diri dan merenungkan lebih jauh keberadaanmu di bulan mulia ini? Aku tahu jawabannya, sedikit saja hal itu tak kau lakukan. Engkau hina dan rendah. Pada ujung bulan ini pun engkau masih meninggalkannya. Meninggalkan malam mulia Lailatul Qadar. Engkau masih menyepelekan kehadirannya. Engkau anggap ia kosong dan tanpa makna.
Duhai diriku, tengoklah ia barang sejenak, walau hanya sebatas doa dan harapan ingin bertemu dengannya.Keluhanku padamu, duhai diriku. Engkau masih saja melupakan penyempurna puasamu, zakat. Saking cintanya engkau pada hartamu dan demi memenuhi kebutuhan hari rayamu, engkau lupa memberi zakat dan sedekahmu. Bukankah dengan melalaikannya puasamu akan sia-sia?
Terakhir, keluhanku padamu, duhai diriku. Engkau masih saja menyimpan dendam dan tidak memberi maaf kepada saudara-saudaramu. Engkau masih menyimpan sifat hina itu. Permohonanku padamu, lepaskanlah sifat nista itu dan balaslah dengan kecintaan kepada sesamamu.
Aku wasiatkan pada dirimu, duhai diriku. Berikan kebahagiaan pada hati orang-orang yang kurang beruntung darimu di ujung Ramadhanmu dengan sedekah. Hayati makna Ramadhan ini dan Ramadhankan setiap hari dalam hidupmu. Tuhanku, dengan setulus hati dan cinta, aku membuat pengakuan akan kelemahan diriku. Inilah aku yang mencampakkan Ramadhan-Mu, tetapi masih berani untuk merindukannya. Inilah aku yang terbebani oleh rasa bersalah, tetapi tak malu untuk bermunajat pada-Mu....
Tuhanku,Telah berhenti para pemohon di depan pintu-Mu.Telah berlindung orang-orang fakir ke haribaan-Mu.Telah berlabuh perahu orang-orang miskin pada tepian lautan kebaikan-Mu.Dan kemurahan-Mu dengan harapan menggapai halaman kasih sayang-Mu dan anugerah-Mu
Tuhanku,Jika sekiranya di bulan ini Engkau hanya menyayangi orang yang ikhlas karena-Mu dalam menjalankan puasa dan shalat malamnya,Maka siapakah yang akan menyayangi pendosa yang berbuat salah bila ia tenggelam dalam lautan dosa dan maksiatnya
Tuhanku,Jika Engkau hanya menyayangi orang-orang yang taat,Maka siapakah yang menyayangi orang-orang yang maksiat.Jika Engkau hanya menerima orang-orang yang beramal,Maka siapakah yang akan menerima orang-orang yang tidak beramal.
Tuhanku,Beruntung sudah orang-orang yang puasa,Berbahagialah orang-orang yang salat malam,Selamatlah orang-orang yang ikhlas.Sedangkan kami, hamba-hamba-Mu yang berdosa.Maka sayangilah kami dengan kasih-sayang-Mu.Dan lepaskanlah kami dari api neraka dengan ampunan-Mu.
Ampunilah dosa-dosa kami dengan kasih-sayang-Mu,Wahai Yang Paling Pengasih dari segala yang mengasihi.
artikel ini diposting dari situs keluarga Ilma95 -Milis Feui82Dikirim oleh: Rendy MartinKamis, 24 Oktober 2002









Tidak ada komentar:
Posting Komentar